Maybe all my fellas (on the internet) already know about my identity.
Yes, I'm gay. And now I'am accepting myself as a gay.
Sebelum itu, mungkin perlu aku ceritakan tentang background diriku, bagaimana asal-usulnya hingga aku menjadi yang sekarang ini.
Jadi aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara yang terlahir dari keluarga yang bisa di bilang cukup harmonis, atau biasa disebut keluarga cemara. Tidak ada masalah berarti apapun dalam hidup ku selama aku di keluargaku ini, mulai dari semuanya pun aku sudah terpenuhi dengan baik (harta, orang tua, dll), yang bahkan aku juga dikaruniai wajah yang bisa dibilang cukup fine kalau menurutku pribadi, tidak jelek dan tidak yang tampan pula. My life seems very normal, isn't it? Tapi ternyata Tuhan punya rencara lain. Rencana untuk memberikanku sebuah cobaan dari arah yang sangat tidak terduga. Yakni menjadikanku tertarik ke sesama jenis.
Kenapa aku bilang bahwa ini adalah cobaan? Karena being a gay is not a choice. "Kok bisa? bukannya itu 100% pilihan? Kan kamu bisa milih buat suka ke lawan jenis, tapi kamu dengan sadar malah memilih untuk menyukai sesama jenis. blablabla...", jawaban seperti itulah yang pasti bakal aku dapatkan. Well, ini kisah singkat yang bisa kalian ketahui soal diriku.
Jadi awal mula aku merasakan hal ini ketika beranjak ke usia-usia puber, sekitar kelas 4-5 SD. Aku mulai merasakan sensasi terangsang entah darimana, akupun belum tau kalau itu adalah terangsang, karena yang aku tau cuma ada yang aneh dari dalam diriku. Singkat cerita aku mulai mengenal mastrubasi. Awalnya mastrubasi ku normal, tidak memikirkan hal-hal aneh/fantasi apapun, bahkan aku pun belum tau kalau yang aku lakukan itu adalah mastrubasi. Sampai akhirnya aku memiliki fantasi kepada seseorang yang berusia paruh baya, yakni tetanggaku sendiri yang masih satu RT. Dan sesuai dengan tebakan kalian, dia adalah seorang laki-laki. Setiap aku melakukan mastrubasi dan membayangkan orang tersebut, aku merasa lebih nyaman dan senang. Aku pun juga pernah melakukan mastrubasi dengan gambar yang ada di box celana dalam yang baru di beli oleh ayahku. Di sana ada model laki-laki kekar berotot dan perempuat fit berpakaian fitnes. Namun seperti yang kalian tebak, aku bukan memandangi si perempuannya, tapi aku memandangi laki-laki nya sebagai fantasi ku.
Aku mulai sadar kalau yang aku lakukan itu adalah salah ketika beranjak SMP. Aku juga mulai sadar bahwa yang aku lakukan adalah perilaku "menyimpang" atau gay. Dari situ aku mulai agak denial kepada diriku sendiri. Aku merasa kalau itu cuma hal yang normal, dan aku masih ada kemauan mendekati perempuan untuk cinta monyet jaman SMP dulu. Walaupun aku sudah berdenial, diam-diam aku masih suka berfantasi kepada seorang laki-laki. Aku pun sebenarnya juga tidak pernah terfikirkan untuk mendekati/menjalin hubungan kepada seorang laki-laki di real life. "Aku kan hanya melakukannya untuk bersenang-senang kepada diriku sendiri, namun aku juga masih punya keinginan untuk memiliki seorang pacar perempuan. Ya jelas lah aku masih normal".
Ternyata, hal tersebut berlangsung terus hingga beranjak dewasa, dimana aku mulai lulus kuliah dan bekerja di luar kota. Di sini sebenarnya aku sudah mulai goyah antara denial dan realita tentang keadaanku saat ini. Aku denial karena aku masih harus memiliki masa depan seperti berkeluarga untuk melangsungkan kehidupanku sebagaimana manusia pada umumnya, dan di terima ke dalam masyarakat. Tapi di sisi lain aku masih melakukan kebiasan fantasiku itu untuk memenuhi kebutuhan biologis ku. Umur sudah mulai tua, aku makin tersadar bahwa itu salah. Aku mengalami stres berat. Aku mengalami konflik batin yang hebat, hingga aku ada niatan untuk b*nuh diri. Waktu berlalu dan aku memutuskan untuk pergi ke psikolog.
Ternyata pergi ke psikolog adalah salah satu keputusan terbaik yang aku ambil dalam hidupku. Di sana aku berniat untuk "menyembuhkan" diriku untuk menjadi "lebih normal". Memang psikolognya tidak pernah mengatakan kalimat menyembuhkan, tapi merubah. Yakni merubah diriku yang awalnya suka ke sesama jenis, perlahan untuk menyukai ke lawan jenis dengan cara mengeliminasi semua pemikiran/believe yang "salah" dalam kepalaku. Aku tau kalau sebenarnya orientasi seksual itu adalah hal yang kompleks dan mungkin tidak ada variabel yang dapat di ambil sebagai patokan pasti, semuanya serba abu-abu dan kabur. Tapi di sini oleh psikolognya sebisa mungkin mengambil variabel-variabel dalam diriku yang salah, dan menggesernya ke arah yang aku inginkan. Karena beliau harus tau dahulu sebab-akibat dari semua ini. Karena aku sebelumnya percaya bahwa orientasi seksual itu murni dari lahir. Tapi ternyata bukan.
Jadi orientasi seksual itu terbentuk dari lingkungan. Pengaruh terbesar adalah lingkungan di mana kita tumbuh dan berkembang. Dalam sesi ini, aku di suruh untuk menggali semua hal yang mungkin bisa membuatku menjadi sekarang ini. Singkat cerita setelah aku brainstroming, akhirnya aku tahu kalau penyebab aku menjadi seperti ini adalah:
Pertama, aku dulu punya teman-teman SD yang nakal. Hampir semua anak laki-laki di kelas ku itu badung semua. Jadi aku hanya memiliki lingkar pertemanan yang sangat sempit, bahkan aku hanya punya 1 teman laki-laki, dan lainnya aku berteman dengan anak perempuan. Ke dua, ternyata aku dulu anak yang fatherless, yakni anak yang tidak/kurang memiliki sosok seorang ayah di dalam hidupnya. Dulu ayahku bekerja banting tulang dari pagi hingga malam. Pagi-siang kerja, sore istirahat, malam kerja lagi sampai jam 9 malam. Rutinitas itu dilakukan ayahku bahkan dari kakak ku yang pertama masih kecil. Jadi aku tumbuh kembang ditemani oleh seseorang yang aku panggil sebagai emak, yakni tetanggaku sendiri yang sudah agak tua. Juga, aku bermain dengan kakakku yang perempuan, karena kakak ku yang laki-laki tidak di rumah sama sekali —untuk menuntut ilmu di luar kota selama aku tumbuh hingga remaja.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa aku lebih banyak berinteraksi dengan seorang perempuan. Aku kekurangan sosok laki-laki dalam tumbuh kembangku. Aku kurang memiliki sosok maskulin dan panutan sebagai seorang ketua/leader. Sehingga aku tumbuh menjadi individu yang pendiam, introvert, dan lebih pemalu. Yang mana pada akhirnya membentuk diriku menjadi menyukai sesama jenis.
Being a gay is not a choice. Kalau kalian sadar, latar belakang hingga perilaku ku didasari bukan karena kemauan, tapi karena keadaan. Mulai dari puber pun aku sudah memiliki fantasi ke laki-laki, yang mana pikiran pada saat itu masih jernih dan belum terpapar dampak negatif internet. Namun, out of nowhere aku bisa memunculkan imajinasi kepada seorang laki-laki ke dalam kepalaku. Aku menjadi begini semua dari keadaan, yang mana keadaan itu muncul diluar kendali ku. Imajinasiku pun lahir juga bukan dari pilihan.
Di sini bukan berarti aku tidak mencoba untuk berfantasi kepada lawan jenis. Aku juga sudah mengusahakannya, bahkan sering. Namun yang aku dapatkan adalah aku tidak bernafsu sama sekali. Aku sama sekali tidak terangsang akan apa yang aku pikirkan saat itu, atau video-video yang aku lihat untuk trigger-nya. Bahkan aku yang sudah ke psikolog pun, dan sudah mencoba banyak saran yang di sarankan oleh psikolognya juga tidak berhasil. Namun memang banyak sekali faktor yang mempengaruhi tentang keberhasilan ini, aku juga tidak menyangkal bahwa diluar sana mungkin ada/banyak yang berhasil.
Merubah seorang gay untuk menjadi straight, yaitu seperti memaksa seorang straight menjadi seorang gay (wkwkwk). Analoginya jika kamu kedinginan, kamu tidak bisa merubah cuacanya menjadi panas, namun kamu harus menebalkan jaketmu. Jika kamu ingin berubah (ke straight), kamu tidak bisa menghilangkan pikiran gay mu (karena itu sudah menjadi bagian dari dirimu). Tapi kamu harus menebalkan keimananmu dan memperbesar keyakinanmu untuk bisa menjadi seorang straight (yang mana itu juga tidak mudah).
Sebenarnya banyak kasus juga tentang seorang straight yang sudah beristri, tiba-tiba menjadi seorang gay. Itulah yang aku katakan sebelumnya, banyak sekali faktor yang mempengaruhi. Karena seksualitas itu sangat abu-abu, tidak hitam dan putih. Bisa saja dia memang biseksual dari awal (yang lebih condong ke arah laki-laki). Jadi dia menikah dan merasa "normal" itu hanya sebatas pikiran denial nya saja, sehingga dia punya bom waktu untuk sewaktu-waktu bisa meledak dan sifat gay-nya itu muncul. Yang akhirnya membuat sebuah ilusi bahwa orang tersebut yang awalnya straight, tiba-tiba bisa berubah menjadi gay. Yang jika kita gali lebih dalam itu bukanlah sebuah hal yang muncul secara tiba-tiba. Semua ada sebab akibatnya yang mengakar sejak jauh di awal.
Jika kalian khususnya yang straight belum punya gambaran penuh soal bagaimana menjadi seorang gay, aku punya analogi lain. Di sini kamu akan merasakan seolah menjadi "berbeda" seperti apa yang kami rasakan saat ini. Bayangkan dunia ini terbalik, memiliki aturan dan norma tentang berpasangan yang terbalik dengan dunia kita sekarang. Jadi orang "normal" itu adalah orang yang memiliki pasangan sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Dan kalian yang straight pun akhirnya punya tekanan sosial untuk menyukai ke sesama jenis. Pertanyaannya adalah, apa yang kalian pikirkan ketika dalam posisi itu? Coba bayangkan kalian berpasangan/menikah ke sesama jenis, apakah kalian akan bahagia? Apakah kalian akan menjalin hubungan discreet ke lawan jenis untuk memenuhi kebutuhan biologis kalian? Apakah kalian bisa menjalani hidup berkeluarga hingga tua dalam posisi seperti itu? Apakah kalian akan benar-benar bahagia dengan menjalani hidup seperti itu?
Beruntunglah bahwa hidup ada di pihak kalian. Dunia ini tidak memihak kepada kami, a gay people. Aku yakin sebagian besar kalau semua orang ingin terlahir kembali dan diberi pilihan untuk memilih seksualitas, pasti akan memilih untuk menjadi straight. I mean, siapa orang bodoh yang memilih untuk hidup dalam dunia abu-abu seperti ini? Yang mana udah di larang di hampir semua kepercayaan, juga jika diumbar ke masyarakat akan dapat sanksi sosial yang berat. Seperti orang yang dengan sengaja memilih level Hard dalam hidupnya. Sayangnya ini bukan sebuah game, dan bukan seindah game yang variabel nya udah terdefinisi dengan jelas dan bisa kita ubah-ubah seenaknya ketika di tengah permainan.
Aku yang sudah beranjak dewasa ini, akhirnya secara perlahan mulai menerima diriku sebagai seorang gay, untuk saat ini. Untuk saat ini, karena keadaanku sekarang belum bisa membuatku untuk menerima diriku sepenuhnya. Jika waktu itu datang, waktu di mana aku benar-benar 100% bisa menerima diriku as a gay, ini merupakan turning point yang sangat besar dalam hidupku. Sebuah titik balik yang benar-benar merubah hidupku keseluruhan dan rencana hidupku kedepannya. Banyak sekali resiko yang pasti akan datang ke diriku kelak, namun aku secara perlahan mulai membangun langkah apa saja yang akan aku ambil untuk meminimalisir resiko tersebut.
Jika kita memandang dari sisi agama (agama manapun), aku tahu hal ini salah. Namun urusan ini adalah urusanku pribadi kepada Tuhan YME. Yang hanya dapat aku pesankan kepada kalian adalah —sedosa apapun dirimu, jangan pernah meninggalkan agama. Ada seorang Atheis yang bertanya kepada orang yang beragama "Mengapa kamu selalu beribadah? Bukankah jika kau mati dan ternyata tidak ada surga dan neraka, itu berarti kau menghabiskan hidupmu dengan sia-sia?". Lalu laki-laki beragama itu menjawab, "Aku akan merasa lebih sia-sia jika ternyata ketika aku mati, surga dan neraka itu ada".
Gay itu cobaan yang berat dari Tuhan. Tuhan memberikan nikmat yakni sebuah pernikahan untuk menyalurkan hasrat dasar manusia agar tidak melakukan dosa dan tetap menjaga martabatnya. Namun hal itu tidak berlaku kepada orang yang memiliki orientasi seksual seperti ini. Bukan hidup itu tidak adil, tapi setiap manusia memulai start di garis yang berbeda-beda.
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan bisa kalian pilah mana yang positif dan mana yang negatif. Thanks!
No comments
Post a Comment